Profil Pribadi Muslim

February 14, 2006

Al-Qur’an dan sunnah merupakan dua pusaka Rasulullah Shallallahu’alayhi wa alihi wasallam yang harus selalu dirujuk oleh setiap muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang amat penting adalah pembentukan dan pengembangan pribadi muslim. Pribadi muslim yang dikehendaki Al-Qur’an dan sunnah adalah pribadi yang saleh. Pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah Subhanahu’ata’alah.

Persepsi (gambaran) masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda. Bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyah. Padahal itu hanyalah satu aspek saja dan masih banyak aspek lain yang harus melekat pada pribadi seorang muslim. Oleh karena itu standar pribadi muslim yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah merupakan sesuatu yang harus dirumuskan, sehingga dapat menjadi acuan bagi pembentukan pribadi muslim.

Bila disederhanakan, setidaknya ada sepuluh karakter atau ciri khas yang mesti melekat pada pribadi muslim.

1. Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih)
Salimul aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Subhanahu’ata’alah. Dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua bagi Allah tuhan semesta alam” (QS. 6:162). Karena aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam awal da’wahnya kepada para sahabat di Mekkah, Rasulullah Shallallahu’alayhi wa alihi wasallam mengutamakan pembinaan aqidah, iman dan tauhid.

2. Shahihul Ibadah (ibadah yang benar)
Shahihul ibadah merupakan salah satu perintah Rasulullah Shallallahu’alayhi wa alihi wasallam yang penting. Dalam satu haditsnya, beliau bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat”. Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul Shallallahu’alayhi wa alihi wasallam yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

3. Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh)
Matinul khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Shallallahu’alayhi wa alihi wasallam diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah Subhanahu’ata’alah di dalam Al Qur’an. Allah berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung” (QS. 68:4).

4. Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani)
Qowiyyul jismi merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.

Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi. Namun jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk hal yang penting, maka Rasulullah Shallallahu’alayhi wa alihi wasallam bersabda yang artinya: “Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah (HR. Muslim)

5. Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir)
Mutsaqqoful fikri merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang juga penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas). Al Qur’an juga banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berfikir, misalnya firman Allah yang artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: ” pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir” (QS 2:219)

Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktifitas berfikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas.

Bisa dibayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu.

Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang, sebagaimana firman Allah yang artinya: Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”‘, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS 39:9)

6. Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)
Mujahadatul linafsihi merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan. Kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam. Rasulullah Shallallahu’alayhi wa alihi wasallam bersabda yang artinya: “Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)” (HR. Hakim)

7. Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu)
Harishun ala waqtihi merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu’ata’alah banyak bersumpah di dalam Al Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan seterusnya.

Allah Subhanahu’ata’alah memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: “Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu”. Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi.

Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk pandai mengelola waktunya dengan baik sehingga waktu berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Shallallahu’alayhi wa alihi wasallam adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum datang sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.

8. Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan)
Munazhzhaman fi syuunihi termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.

Dengan kata lain, suatu urusan mesti dikerjakan secara profesional. Apapun yang dikerjakan, profesionalisme selalu diperhatikan. Bersungguh-sungguh, bersemangat , berkorban, berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan hal-hal yang mesti mendapat perhatian serius dalam penunaian tugas-tugas.

9. Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri/mandiri)
Qodirun alal kasbi merupakan ciri lain yang harus ada pada diri seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan ibadah haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al Qur’an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.

Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik. Keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Subhanahu’ata’alah. Rezeki yang telah Allah sediakan harus diambil dan untuk mengambilnya diperlukan skill atau ketrampilan.

10. Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain)
Nafi’un lighoirihi merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaan. Jangan sampai keberadaan seorang muslim tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan.

Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berfikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan ini, Rasulullah Shallallahu’alayhi wa alihi wasallam bersabda yang artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Qudhy dari Jabir).
Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al Qur’an dan sunnah. Sesuatu yang perlu kita standarisasikan pada diri kita masing-masing.

*MUSUH-MUSUH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH*

December 20, 2005

Penulis :* Al-Ustadz Ja’far Umar Thalib*

*”Sesungguhnya kalian wahai Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mayoritas Ummat Islam di dunia ini. Karena itu kalian adalah pihak yang sepantasnya membikin perubahan positif pada Ummat Islam.”*

Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu adalah simbol para Ulama’ Ummat Islam yang mempunyai semangat pemahaman agama yang merujuk kepada As-Sunnah (yakni segenap ajaran Nabi Muhammad *Shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam*) dan kepada Al-Jama’ah (yakni pemahaman para Shahabat Nabi terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah). Pada prinsipnya mayoritas Ummat Islam adalah pengikut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, dengan asumsi pada dasarnya Ummat Islam itu adalah orang yang memuliakan Nabi Muhammad *Shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam* dan
memuliakan pula Shahabat Nabi. Dan yang demikian ini adala h sikap mayoritas Ummat Islam. Pandangan yang demikian ini telah dinyatakan oleh para Ulama’ Ahlul Hadits, antara lain oleh Syaikh Muqbil Bin Hadi Al-Wadi’ie *rahimahullah* sebagai berikut:

“Sesungguhnya kalian wahai Ahlus Sunnah wal Jama’ah, adalah mayoritas Ummat Islam di dunia ini. Karena itu kalian adalah pihak yang sepantasnya membikin perubahan positif pada Ummat Islam.”

Dengan prinsip pandangan yang demikian ini, maka apa yang dikatakan sebagai musuh Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah berarti juga sebagai musuh Ummat Islam. Sehingga karenanya para musuh itu adalah sesungguhnya merupakan musuh bersama Ummat Islam dan bukan musuh kelompok tertentu saja.
Itulah sebabnya tulisan ini disuguhkan kepada segenap pembaca yang budiman,untuk kita memahami medan perlagaan yang sedang berkecambuk di dunia ini.

*MISI PERJUANGAN AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH*

Sebelum kita mengenali para musuh-musuh itu, kita perlu mengenali dari dekat tentang misi perjuangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sehingga diharapkan dengan demikian, kita dapat mengenali pula betapa genting dan bahayanya berbagai gerakan para musuh Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu. Misi
perjuangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah juga misi perjuangan mayoritas Ummat Islam. Karena itu misi perjuangan ini adalah perjuangan dari Ummat,untuk kepentingan Ummat, oleh Ummat. Adapun misi perjuangan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Mengajarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya kepada segenap manusia baik Muslimnya maupun orang-orang kafirnya. Tentu yang diajarkan ialah pemahaman para Shahabat Nabi dan para Tabi’in terhadap Al-Qur’an dan Al-Hadits itu. Dan tidaklah pemahaman-pemahaman lain yang sangat banyak aneka ragamnya.

2. Mempelopori pengamalan Al- Qur’an dan Al-Hadits dengan pemahaman demikian dalam kehidupan sehari-hari.

3. Membersihkan berbagai kekeliruan pemahaman dan penyimpangan dari pemahaman para Shahabat dan Tabi’in terhadap Al-Qur’an dan Al-Hadits, dalam bentuk bid’ah, syirik, dan segala tahayyul dan khurafat.

Dengan ketiga misi perjuangan ini, Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang berciri khas sebagai berikut:

1. Para pejuangnya mempunyai ilmu dan *bashirah* (yakni kepekaan dalam memahami situasi dan kondisi ataupun dalam memperhitungkan kejadian yang akan datang). Karena perjuangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dilancarkan di atas ilmu dan bashirah.

2. Para Ulama’ sebagai rujukan dan sekaligus bimbingan dalam menjalankan tiga misi perjuangan tersebut di atas.

3. Tidak mengekor atau bertaqlid kepada siapapun dalam memahami dan mengamalkan agamanya. Karena Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa tidak ada yang ma’shum kecuali Nabi Muhammad *Shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam*. Selain beliau tetap mempunyai kemungkinan untuk bersalah.

4. Yang dinamakan ilmu itu hanyalah Al-Qu’ran dan As-Sunnah, sedangkan yang lainnya adalah berbagai pengetahuan yang harus ditundukkan kepada keduanya dan dikontrol oleh keduanya. Karena semua orang wajib mempelajari
Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sedangkan ilmu-ilmu selain keduanya kewajibannya sesuai dengan keperluan kaum Muslimin untuk kemaslahatan kehidupannya didunia dan paling jauh dalam kewajibannya adalah wajib kifayah.

5. Sabar dan istiqamah dalam melancarkan misi perjuangan dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip utama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam segala keadaan.

6. Ikhlas dalam perjuangannya untuk Allah semata dan tidak untuk yang lainnya. Dalam rangka mengikhlaskan perjuangan ini, maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah sa ngat tegas dalam perkara ketauhidan dan sangat anti pati terhadap segala bentuk perbuatan syirik.

7. Al-Ittiba’ yakni selalu mengikuti tuntunan Nabi Muhammad *Shallallahu’alayhi wa alihi wasallam* dalam segala perkara. Oleh karena itu Ahlus Sunnah wal Jama’ah selalu menjunjung tinggi As-Sunnah An-Nabawiyyah dan
menentang Al-Bid’ah Adh-Dhalalah.

8. Sangat mengutamakan persatuan dan kesatuan Muslimin di atas prinsip-prinsip Al-Qur’an dan As-Sunnah An-Nabawiyyah serta menetang segala bentuk perpecahan dalam berpegang teguh dengan keduanya.

9. Dalam rangka menjaga persatuan dan kesatuan tersebut, Ahlus Sunnah wal Jama’ah sangat gigih menyerukan kepada kaum Muslimin untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan cara pemahaman As-Salafus Shalih dan tidak menyimpang dari mereka. Sebab salah satu sumber utama perpecahan Ummat Islam
itu ialah bila terjadi kesimpangsiuran pemahaman terh adap Al-Qur’an dan As-Sunnah.

10.Merujukkan pemahaman Islam kepada As-Salafus Shalih, yakni generasi para Shahabat Nabi *Shallallahu ‘alayhi wa alihi
wasallam* yang mereka ini belajar Islam langsung dari beliau, kemudian generasi para Tabi’in sebagai generasi Muslimin yang belajar Islam dari para Shahabat. Dan generasi Tabi’it Tabi’in sebagai generasi Muslimin yang belajar Islam dari para Tabi’in. Tiga generasi tersebut dinamakan As-Salafus
Shalih. Generasi-generasi inilah yang selamat dari dominasi bid’ah dan syirik dalam pemahaman maupun pengamalan mereka terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena Allah dan Rasul-Nya memuji mereka sebagai sebaik-baik generasi.

11.Membangkitkan semangat kaum Muslimin untuk mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan cara yang benar,
sebagai satu-satunya solusi segala problem Ummat Islam di seluruh dunia.

12.Memerangi dan memberantas segala bentuk kemusyrikan, kebid’ahan dan kemaksiatan sebagai sumber-su mber kesialan dan
malapetaka atas kaum Muslimin. Memerangi dan memberantasnya itu maksudnya adalah membebaskan kaum Muslimin dari kungkungannya.

Demikianlah beberapa langkah misi perjuangan dan ciri khas Ahlus Sunnah wal Jama’ah dimanapun mereka berada dan kapanpun mereka hidup serta siapapun dia dengan berbagai latar belakang bangsa, suku dan budayanya.

*BEBERAPA BENTUK PENJEGALAN DAN PENGHADANGAN*

Adalah merupakan Sunnatullah di dalam kehidupan ini bahwa
perjuangan di jalan Allah itu harus berhadapan dengan berbagai bentuk penjegalan dan penghadangan. Hal ini telah dinyatakan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya:

*”Demikianlah Kami jadikan bagi setiap Nabi itu, musuh dalam bentuk setandari kalangan manusia maupun dari kalangan jin yang saling mengilhamkan satu dengan lainnya omongan-omongan palsu yang menipu. Seandainya Tuhanmu berkehendak, niscaya mereka tidak akan melakukannya. Oleh karena itu,
biarkanlah mereka berbuat d engan berbagai kepalsuan yang mereka lakukan.
Yang demikian itu Kami jadikan adalah agar condong kepada mereka hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat dan agar mereka ridha dengan berbagai kepalsuan itu dan agar mereka semakin tenggelam dalam berbagai penyimpangan itu. *(*Q.S. Al-An’am ayat 112-113*)

Rasulullah *Shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam* menjelaskan:

*”Tidaklah seorangpun membawa ajaran seperti yang aku bawa, kecuali mesti dia dimusuhi (oleh masyarakatnya).” *(*Ibnu Katsir* berkata: Diriwayatkan oleh *Al-Bukhari *juz 1 hal. 22 dan *Muslim* juz 1 hal. 139. keduanya dari hadits Ummul Mu’minin Aisyah *radhiyallahu ‘anha*, lihat *Tafsir Ibnu Katsir*juz 3 hal. 388)

Demikianlah Sunnatullah, bahwa jalan perjuangan ini penuh perlagaan melawan musuh-musuh dakwah di dunia ini. Sehingga dimanapun dan kapanpun serta siapapun yang mengibarkan bendera perjuangan Dakwah Salafiyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, pasti akan berhadapan dengan musuh- musuh dakwah dan pasti akan
menghadapi berbagai bentuk penjegalan dan penghadangan dari para musuh-musuh dakwah itu.

Oleh karenanya, kita perlu mengenali dari dekat berbagai bentuk penjegalan dan penghadangan terhadap dakwah ini, agar kita lebih dini dalam menyiapkan mental dalam menghadapinya. Bentuk-bentuk penjegalan dan penghadangan itu antara lain adalah sebagai berikut:

1. Mencerca para pejuang dakwah tersebut, untuk menjauhkan kaum Muslimin dari dakwah yang diserukannya. Hal ini diceritakan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya: *”Sesungguhnya orang-orang yang berbuat jahat itu, mereka selalu menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang Mu’min itu lewat di hadapan mereka, maka mereka pun saling memberi isyarat ejekan terhadap kaum Mu’minin. Dan apabila mereka kembali pulang ke rumahnya, mereka pulang dengan perasaan besar diri. Dan apabila mereka melihat kaum Mu’minin, merekapun menyatakan: Sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang sesat .” *(*Q.S. Al-Muthaffifin ayat 29-32)*
2. Mendengki terhadap segala kenikmatan dan kemuliaan yang Allah berikan kepada para pejuang dakwah ini dan senang bila musibah menimpa para pejuang itu. Hal ini telah diceritakan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya sebagai berikut:**

*”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang dari selain kalian sebagai orang dekat kalian. Karena mereka itu tidakkurang-kurangnya semangat mereka untuk menimpakan kepada kalian berbagai malapetaka. Mereka sangat kuat ambisinya untuk menyulitkan kalian. Sungguh
telah nyata kebencian mereka kepada kalian dari mulut-mulut mereka dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih besar. Sungguh Kami telah terangkan kepada kalian bukti-bukti tersebut bila memang kalian adalah orang-orang
yang berakal. Kalau kalian mencintai mereka, maka mereka sesungguhnya tidak mencintai kalian. Padahal kalian beriman kepada segenap isi Al-Qur’an ini.
Apabila mereka berjumpa dengan kali an, maka merekapun akan menyatakan: Kami beriman. Dan apabila mereka sendirian dengan sesama mereka, maka mereka pun menggigit jari mereka karena menahan kemarahan mereka kepada kalian.
Katakanlah kepada mereka: Mampuslah kalian dengan berbagai kemarahan kalian.
Sesungguhnya Allah Maha Tahu apa saja yang terbetik di hati. Bila kalian mendapat keberuntungan, merekapun merasa sakit hati, dan bila kalian mendapat malapetaka, merekapun gembira karenanya. Akan tetapi bila kalian dalam menghadapi segala sikap mereka itu dengan tetap bersabar dalam
mentaati Allah dan tetap bertaqwa kepada-Nya, maka segala makar mereka itu tidak akan merugikan kalian sama sekali. Sesungguhnya Allah Maha Menguasai segala apa yang mereka lakukan.”* (*Q.S. Ali Imran ayat 118-120*).

1. Melakukan upaya pengkaburan agama dengan menyimpangkan segala pengertian agama kepada apa yang dimaukan oleh hawa nafsunya. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya sebagai berikut:

*”Maka celakalah bagi orang-orang kafir dengan ancaman adzab yang pedih.Yaitu orang-orang yang lebih mencintai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat dan menghalangi manusia dari jalan Allah serta mengupayakan untuk menyimpangkan jalan Allah itu. Mereka yang demikian itu dalam kesesatan yang
jauh.” *(*Q.S. Ibrahim ayat 2-3*)

Juga firman Allah Ta’ala yang menegaskan:

*”Dan orang-orang kafir itu pimpinan mereka ialah para thaghut (setan), yangmengeluarkan mereka dari cahaya kebenaran kepada kegelapan. Mereka itulah para penghuni neraka dan mereka kekal di dalamnya.”* (*Q.S. Al-Baqarah ayat
257*).

1. Mencegah kaum Mu’minin untuk berdzikir kepada Allah di
masjid-masjid Allah dan mencegah mereka untuk mempelajari agama-Nya dan merusakkan masjid-masjid itu secara maknawi maupun secara hakiki. Padahal masjid adalah salah satu simbol utama pelaksanaan agama Allah dan peribadatan kepada-Nya. Hal ini dinyatakan oleh Allah Ta’ala dalamfirman-Nya sebagai berikut ini:

*”Dan siapakah yang lebih dhalim dari orang-orang yang melarang orang untuk berdzikir kepada Allah di masjid-masjid-Nya dan berupaya untuk merusakkan masjid-masjid itu. Maka akibat kejahatan mereka itu, mereka dihukum dengan
tidak akan memasuki masjid-masjid itu kecuali dalam keadaan takut dan hina.
Mereka di dunia ini akan mendapatkan kehinaan dan di akhirat nanti akan mendapatkan adzab yang besar.”* (*Q.S. Al-Baqarah ayat 114*)

Cara mereka mencegah kaum Muslimin untuk berdzikir di masjid-masjid Allah itu bisa jadi dengan melarangnya secara langsung tanpa alasan yang syar’i,atau melarangnya dengan alasan yang seolah-olah syar’i. Umpamanya dengan dugaan bahwa majelis dzikir yang ada di masjid itu diajarkan padanya
berbagai kesesatan. Padahal itu hanya dalam bentuk dugaan belaka tanpadidasari oleh kepastian ilmiah untuk membikin dugaan itu. Yang demikian ini
adalah bentuk-bentuk pelarangan kaum Muslimin untuk berd zikir dimasjid-masjid Allah yang akan diancam dengan kehinaan di dunia dan adzab yang berat di akhirat.

1. Menakut-nakuti kaum Muslimin untuk beriman dan berislam dengan berbagai kengerian resiko beriman dan berislam itu. Cara ini dilakukan olehpara setan untuk mencegah adanya arus kegairahan beriman dan berislam dikalangan manusia dan jin. Hal ini sebagaimana yang diberitakan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya berikut ini:

*”Hanyalah para setan itu selalu menakut-nakuti para pengikutnya atau menakuti kalian dengan para pengikutnya. Oleh karena itu, janganlah kalian takut mereka tetapi hendaklah kalian hanya takut kepada-Ku bila kalian memang benar-benar sebagai orang yang beriman.” *(*Q.S. Ali Imran ayat 175*)

Bahkan diberitakan oleh Allah Ta’ala tentang alasan mengapa kaum musyrikin Arab itu menolak beriman kepada Nabi Muhammad *Shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam*, sebagaimana pernyataan mereka sendiri:

*”Dan mereka berkata: Jika kami mengikuti petunjuk bersama kamu, niscaya
kami diusir dari negeri kami.”* (*Q.S. Al-Qashas ayat 57*)

Jadi bayangan ketakutan kehilangan dunia terus menghantui orang-orang yang ingin beriman dan berislam. Sehingga orang yang setengah-setengah dalam niatnya ingin beriman dan berislam, akan terpelanting dari jalan Allah ini.
Atau minimal orang yang telah beriman dan berislam, akan dijangkiti oleh perasaan rendah diri dan penuh kekuatiran dalam menyatakan keimanan dan keislamannya.

Demikian berbagai bentuk penjegalan dan penghadangan yang dilakukan oleh musuh-musuh dakwah ini dalam peperangan yang mereka lancarkan terhadap misi perjuangan Dakwah Salafiyah Ahlis Sunnah wal Jama’ah.

*PENUTUP*

Hidup di dunia memang adalah medan perlagaan antara pengikut hidayah dan taufiq Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad *Shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam* berhadapan dengan para pengikut setan yang menghendaki untuk menyimpang dari hi dayah dan taufiq Allah Ta’ala. Hanya orang yang dibimbing
oleh hidayah dan taufiq Allah saja yang akan keluar sebagai pemenang dalam perlagaan ini. Orang-orang yang tidak mendapatkan hidayah dan taufiq itu, akan larut dalam berbagai manuver *syaithaniyah* yang selalu menjauhkan
orang yang masuk dalam perangkapnya dari jalan Allah dan Rasul-Nya. Semogakita semua diselamatkan oleh Allah Ta’ala dari berbagai jebakan kesesatan para tentara setan itu dan selalu melimpahkan kepada kita semua hidayah dan
taufiq-Nya. *Amin ya mujibas sailin*.

Oracle Database 10g (10.1.0.2) Installation On Fedora Core 2 (FC2)

December 10, 2005

Didalam artikel kali ini, Saya akan mendiskripsikan tentang instalasi Oracle Database 10g (10.1.0.2) pada Fedora Core 2. Artikel ini didasari pada instalasi Server Fedora Core 2 dengan minimum swapnya 2G dan dibawah ini adalah kelompok paket instalasinya:
ora
centang X Window System
centang GNOME Desktop Environment
centang KDE Desktop Environment
centang Editors
centang Graphical Internet
centang Text-based Internet
centang Server Configuration Tools
centang Windows File Server
centang Network Servers
centang Development Tools
centang Kernel Development
centang Administration Tools
centang System Tools

Alternative installations may require additional packages to be loaded in addition to the ones listed below.
centang Download Software
centang Unpack Files
centang Hosts File
centang Set Kernel Parameters
centang Setup
centang Installation
centang Post Installation
Download Sftware
Download the following software:
centang Oracle Database 10g (10.1.0.2) Software
Unpack Files
First unzip the files:
gunzip ship.db.cpio.gz
Next unpack the contents of the files:
cpio -idmv < ship.db.cpio
You should now have a single directory (Disk1) containing installation files.
Hosts File
The /etc/hosts file must contain a fully qualified name for the server:

Set Kernel Parameters
Add the following lines to the /etc/sysctl.conf file:
kernel.shmall = 2097152
kernel.shmmax = 2147483648
kernel.shmmni = 4096
kernel.sem = 250 32000 100 128
fs.file-max = 65536
net.ipv4.ip_local_port_range = 1024 65000
Run the following command to change the current kernel parameters:
/sbin/sysctl -p
Add the following lines to the /etc/security/limits.conf file:
* soft nproc 2047
* hard nproc 16384
* soft nofile 1024
* hard nofile 65536
Add the following line to the /etc/pam.d/login file, if it does not already exist:
session required /lib/security/pam_limits.so
Note by Kent Anderson: In the event that pam_limits.so cannot set privilidged limit settings see Bug 115442.
Setup
Install the following packages:
# From Fedora Core 2 Disk 1
cd /mnt/cdrom/Fedora/RPMS
rpm -Uvh setarch-1.4-1.i386.rpm
rpm -Uvh tcl-8.4.5-7.i386.rpm

# From Fedora Core 2 Disk 2
cd /mnt/cdrom/Fedora/RPMS
rpm -Uvh openmotif-2.2.3-2.i386.rpm

# From Fedora Core 2 Disk 3
cd /mnt/cdrom/Fedora/RPMS
rpm -Uvh compat-libstdc++-7.3-2.96.126.i386.rpm
rpm -Uvh compat-libstdc++-devel-7.3-2.96.126.i386.rpm
rpm -Uvh compat-db-4.1.25-2.1.i386.rpm
rpm -Uvh compat-gcc-7.3-2.96.126.i386.rpm
rpm -Uvh compat-gcc-c++-7.3-2.96.126.i386.rpm
Create the new groups and users:
groupadd oinstall
groupadd dba
groupadd oper

useradd -g oinstall -G dba oracle
passwd oracle
Create the directories in which the Oracle software will be installed:
mkdir -p /u01/app/oracle/product/10.1.0/db_1
chown -R oracle.oinstall /u01
Login as root and issue the following command:
xhost +
Edit the /etc/redhat-release file replacing the current release information (Fedora Core release 2 (Tettnang)) with the following:
redhat-3
Login as the oracle user and add the following lines at the end of the .bash_profile file:
# Oracle Settings
TMP=/tmp; export TMP
TMPDIR=$TMP; export TMPDIR

ORACLE_BASE=/u01/app/oracle; export ORACLE_BASE
ORACLE_HOME=$ORACLE_BASE/product/10.1.0/db_1; export ORACLE_HOME
ORACLE_SID=TSH1; export ORACLE_SID
ORACLE_TERM=xterm; export ORACLE_TERM
PATH=/usr/sbin:$PATH; export PATH
PATH=$ORACLE_HOME/bin:$PATH; export PATH

LD_LIBRARY_PATH=$ORACLE_HOME/lib:/lib:/usr/lib; export LD_LIBRARY_PATH
CLASSPATH=$ORACLE_HOME/JRE:$ORACLE_HOME/jlib:$ORACLE_HOME/rdbms/jlib; export CLASSPATH
LD_ASSUME_KERNEL=2.4.1; export LD_ASSUME_KERNEL

if [ $USER = “oracle” ]; then
if [ $SHELL = “/bin/ksh” ]; then
ulimit -p 16384
ulimit -n 65536
else
ulimit -u 16384 -n 65536
fi
fi
Installation
Log into the oracle user. If you are using X emulation then set the DISPLAY environmental variable:
DISPLAY=:0.0; export DISPLAY
Start the Oracle Universal Installer (OUI) by issuing the following command in the Disk1 directory:
./runInstaller
During the installation enter the appropriate ORACLE_HOME and name then continue with a “software only” installation.
Post Installation
As the oracle user issue the following commands:
cd $ORACLE_HOME/bin

mv oracle oracle.bin

cat >oracle < <"EOF"
#!/bin/bash

export DISABLE_HUGETLBFS=1
exec $ORACLE_HOME/bin/oracle.bin $@
EOF

chmod +x oracle
This should prevent the "ORA-27125: unable to create shared memory segment" being produced by the DBCA.

Edit the /etc/redhat-release file restoring the original release information:
Fedora Core release 2 (Tettnang)
Finally edit the /etc/oratab file setting the restart flag for each instance to 'Y':
TSH1:/u01/app/oracle/product/10.1.0:Y
For more information see:
centang Oracle Database Installation Guide 10g Release 1 (10.1) for UNIX Systems
centang Installing Oracle 9i on RedHat Linux 7.1, 7.2, 7.3, 8.0, 9 and on Red Hat Advanced Server 2.1
centang Oracle on Linux

INSTALLASI MySQL 4.1.9 + Apache 2.0.53 + php-4.3.10 Pada RedHat 9.0.

November 11, 2005

logo
: . Editor mengunakan MC.

Melihat paket rpm yg terinstall:

rpm -qa | grep mysql
Masuk ke folder :

cd /usr/local/src
Download MySQL 4.1.9

wget http://mysql.cbn.net.id/Downloads/MySQL-4.1/mysql-4.1.9.tar.gz
Extrak file tarbal MySQL tersebut.

tar -zxvf mysql-4.1.9.tar.gz
Masuk ke folder /usr/local/src/mysql-4.1.9

cd /usr/local/src/mysql-4.1.9
Membuat Group dan User MySQL:

groupadd mysql
useradd -g mysql -c “MySQL Server” -d /dev/null -s /sbin/nologin mysql
Membuat semua kepemilikan file user dan group ROOT:

chown -R root.root *
Configure komponen:

./configure \
–prefix=/usr/local/mysql \ –localstatedir=/usr/local/mysql/data \ –disable-maintainer-mode \ –with-mysqld-user=mysql \ –with-unix-socket-path=/tmp/mysql.sock \ –without-comment \ –without-debug \ –without-bench

Compile dan instalasi:

make && make install

Configure MySQL

./scripts/mysql_install_db

Membuat Kepemilikan & pengkopian:

chown -R root:mysql /usr/local/mysql
chown -R mysql:mysql /usr/local/mysql/data
cp support-files/my-medium.cnf /etc/my.cnf
chown root:sys /etc/my.cnf
chmod 644 /etc/my.cnf
echo “/usr/local/mysql/lib/mysql” >> /etc/ld.so.conf
ldconfig

Membuat MySQL aktif pada saat Start:

cp ./support-files/mysql.server /etc/rc.d/init.d/mysql
chmod +x /etc/rc.d/init.d/mysql
/sbin/chkconfig –level 3 mysql on

Simlynks MySQL binary:

cd /usr/local/mysql/bin
for file in *; do ln -s /usr/local/mysql/bin/$file /usr/bin/$file; done

Edit file /etc/my.cnf dan hilangkan komentarnya #

mcedit /etc/my.cnf
skip-networking

Memulai MySQL

cd ~
/etc/rc.d/rc3.d/S90mysql start
Selanjutnya u/ memulai dan mengakiri MySQL

/etc/rc.d/init.d/mysql start
/etc/rc.d/init.d/mysql stop

Test hasil instalasi dan versi yg di gunakan:

mysqladmin version
Set password untuk root

mysqladmin -u root password new-password
Masuk ke MySQL

mysql -u root -p
mysql>

keluar dari MySQL mysql> quit

Dianjurkan menggunakan mysql client versi 4

——————————————————————————–

Instalasi Apache 2.0.53

Menghilangkan Service Apache versi lama, supaya bisa di install Apache 2.0.53

rpm -e –nodeps apache

Download Apache 2.0.53 pada /usr/local/src

cd /usr/local/src
wget http://mirrors.chipset.or.id/apache/httpd/httpd-2.0.52.tar.gz

Extak file httpd-2.0.52.tar.gz

tar -zxvf httpd-2.0.52.tar.gz

masuk ke directory dan konfigurasi dilanjutkan dengan instalasi:

cd /usr/local/src/httpd-2.0.52
./configure \
–prefix=/etc/httpd/ \ –enable-shared=max \ –enable-module=rewrite \ –enable-module=so \ –enable-ssl

make && make install

Menjalankan Apache:

/etc/httpd/bin/httpd -k start
supaya Apache jalan pada saat Start computer: masukan dan simpan perintah /etc/httpd/bin/httpd -k start pada /etc/rc.d/rc.local

mcedit /etc/rc.d/rc.local

——————————————————————————–

Installasi php-4.3.10

Menghilangkan Service PHP versi lama, supaya bisa di install php-4.3.10

rpm -e –nodeps PHP
Download Binary PHP

wget http://id2.php.net/get/php-4.3.10.tar.gz/from/this/mirror
extrak tarbal

tar -zxvf php-4.3.10.tar.gz
Masuk ke directory /usr/local/src/ php-4.3.10

cd /usr/local/src/ php-4.3.10

configure dan instalingPHP:

./configure –with-apxs2=/etc/httpd/bin/apxs –with-mysql –with-libxml –with-png –with-zlib –with-gettext –with-GD –enable-force-cgi-redirect
make && make install

copy file:

cp php.ini-dist /usr/local/lib/php.ini

Edit dan tambahkan pada file /etc/httpd/conf/httpd.conf

mcedit /etc/httpd/conf/httpd.conf

LoadModule php4_module libexec/libphp4.so AddType application/x-httpd-php .php .phtml

catatan bila “LoadModule php4_module libexec/libphp4.so” sudah ada berikan tanda pagar sebelum kalimat tersebut.
Buat file untuk ngebuktiin apache jalan:

Nama file: Info.php Simpan kedalam DocumentRoot

< ? Phpinfo(); ?>

Buka di browser url ini: http://localhost/info.php

SALAFUSH SHALIH

June 28, 2005

ANTARA AHLUS SUNNAH DAL SALAFIYAH

Di sini juga perlu dijelaskan antara istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan Salafiyah. Suatu hal yang perlu dicermati dari tingkah laku sebagian da’i adalah mereka tidak mau menyebut dakwah mereka dengan dakwah salafiyah, walapun secara tegas mereka menyatakan bahwa aqidah mereka adalah salafi. Mereka hanya mau mempopulerkan dakwah mereka dengan nama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka mengulang-ulang nama tersebut di berbagai kesempatan, ketika menyampaikan pidato atau ketika menulis buletin. Ini merupakan ketetapan Allah yang agung. Supaya dakwah yang haq nampak beda dengan dakwah-dakwah yang menyerupainya. Agar dakwah yang haq tidak tercampur dari segala hal yang mengaburkannya.

Penjelasan tentang hal itu sebagai berikut: Sesungguhnya istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah muncul ketika timbul bid’ah-bid’ah yang meyesatkan sebagian manusia. Maka perlu nama untuk membedakan umat islam yang komitmen dengan sunnah. Nama itu adalah Ahlus Sunnah sebagai lawan Ahlu Bid’ah. Ahlus Sunnah juga disebut Al-Jama’ah, karena mereka adalah kelompok asal (asli). Sedangkan orang-orang yang terpecah dari ahlus sunnah dikarenakan bid’ah dan hawa nafsu adalah orang-orang yang menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Sedangkan saat ini, istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah telah menjadi rebutan berbagai kaum dan jama’ah yang beraneka ragam. Bisa kita saksikan sendiri, banyak kaum hizbi yang menyebut jama’ah dan organisasi mereka dengan istilah ini. Bahkan beberapa tharekat Sufi melakukan tindakan yang sama. Sampai-sampai Asy’ariyah, Maturidiyah, Barilawiyah dan lain-lainnya mengatakan ‘Kami adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah’.

Namun mereka semua menolak untuk menamakan diri mereka dengan Salafiyah. Mereka menjauhkan diri untuk menisbatkan kepada manhaj salaf, terlebih lagi kenyataan dan hakikat mereka (yakni mereka jauh dari mengikuti Salafush Shalih).

Ini adalah suatu yang biasa bagi kita, karena termasuk perkara yang sudah maklum di kalangan para dai yang mengajak kepada Al Quran dan as Sunnah dengan pemahaman ulama salaf, bahwa slogan/prinsip para ahli bid’ah adalah tidak menganut prinsip mengikuti salaf. Karena ittiba’ (mengikuti) sesungguhnya mengikuti pemahaman salaf merupakan kata pemutus terhadap perselisihan pemahaman-pemahaman orang-orang di masa kini. Karena sebagian orang menghukumi dengan akalnya, yang lain menghukumi dengan dasar pengalamannya, yang lain lagi menghukumi dengan emosi.

Demikianlah pemahaman mereka, tanpa memperhatikan jalan orang-orang yang beriman (yaitu jalan para sahabat) yang wajib diikuti dan didakwahkan. Jalan orang-orang yang beriman itu pada hakikatnya adalah jalan Salafush Shalih, yang kita menisbatkan diri kepadanya dan kita mengambil petnjuk cahayanya. Karena itu slogan Ahlus sunnah adalah mengikuti salafush shalih dan meninggalkan segala sesuatu yang bid’ah dan baru dalam agama.

Barangsiapa mengingkari penisbatan kepada salaf dan mencelanya, maka perkataannya terbantah dan tertolak ‘karena tidak ada aib untuk orang-orang yang menampakkan madzab salaf dan bernisbat kepadanya bahkan hal itu wajib diterima menurut kesepakatan ulama, karena mazhab salaf itu pasti benar [Majmu Fatawa 4/149]

Pada zaman ini banyak pengakuan-pengakuan sebagai Ahlus Sunnah wal Jama’ah (memang pada hakekatnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah merupakan sifat di antara sifat-sifat salafiyah), Maka ada keharusan untuk membedakan diri dari orang-orang yang mengaku-aku Ahlus Sunnah wal Jama’ah (namun mereka menyelisihi sunnah, baik dalam aspek aqidah maupun manhaj) dengan menisbatkan diri dengan manhaj yang mereka ketakutan untuk terang-terangan menyatakannya dan tidak merasa terhormat dengan bernisbat kepadanya. Karena hal itu akan mengadili mereka apakah mereka mencocoki atau menyelisihi manhaj itu yaitu manhaj salaf dalam metode dan tujuan dakwah, atau dalam aqidah, fiqih, persepsi tentang Islam dan perilaku.

Juga perlu dikatakan kepada orang yang mengikngkari penisbatan kepada Salafiyah. Sesungguhnya menisbatkan diri kepada salaf dan terus terang berbangga terhadap setiap orang yang menyelisihi kebenaran, baik menyelisihi dalam perilaku maupun pembuatan teori-teori, dan terang-terangan menyatakan bahwa satu-satunya dakwah yang benar adalah dakwah salafiyah, itu semua bukanlah aib. Tidak ada bahaya bagi pelakunya. Karena salafiyah adalah nisbat kepada salaf. Penisbatan ini tidak pernah terpisah meski dalam sekejap mata dari umat Islam sejak terbentuknya minhaj kenabian. Salafiyah itu mencakup semua umat Islam yang menempuh metode generasi pertama dan orang-orang yang mengikuti mereka, dalam metode mendapatkan ilmu, memahami ilmu dan mendakwahkannya. Jadi Salafiyah tidak lagi terbatas pada fase sejarah tertentu, bahkan harus dipahami bahwa makna salaf terus berjalan sepanjang kehidupan dunia.

Hal ini makin dikuatkan bahwa Salafiyah mencakup setiap bagian dari Islam yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Jadi Salafiyah bukanlah suatu corak beragama yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah, baik dengan menambah ataupun dengan menguranginya.

Termasuk perkara yang perlu diperhatikan, seandainya umat ini telah berada di dalam bentuk Islam yang benar, tanpa tercampur dengan bid’ah dan hawa nafsu, sebagaimana yang terjadi di masa awal Islam terutama masa salafus shalih, niscaya lenyaplah berbagai sebutan yang berfungsi sebagai pembeda karena tidak adanya penentang.

Karena hal itu maka ikatan wala’ (kecintaan) dan bara’(berlepas diri), pembelaan dan permusuhan menurut orang-orang yang menisbatkan diri kepada salaf adalah berdasarkan Islam. Bukan yang lain. Tidak dengan corak tertentu selain Islam. Wala’ dan bara’ itu hanyalah berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah saja.

Dengan ini semua, benar-benar jelas bahwa makna Salafiyah dan hakikat penisbatan kepada salaf adalah nisbat kepada salaf shalih, yaitu semua sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Bukan orang-orang setelah sahabat yang dibelokkan oleh hawa nafsu, yang mereka adalah generasi yang buruk. Generasi yang menyimpang dari salaf shaleh dengan nama atau corak tertentu. Dari sinilah mereka dinamai khalaf (orang yang datang kemudian) dan penisbatannya adalah khalafi.

Jadi Salafiyah tidak memiliki corak yang keluar dari Kitab dan Sunnah. Salafiyah adalah nisbat yang tidak pernah terpisah sekejappun dari generasi pertama. Bahkan Salafiyah adalah bagian dari mereka dan merujk kepada mereka.

Sedangkan orang-orang yang menyelisihi salaf shalih dengan nama atau corak tertentu, bukanlah bagian dari mereka, meski hidup di tengah-tengah mereka atau senantiasa dengan mereka. Karena itulah para sahabat berlepas diri dari Qadariyah, Murjiah dan lain-lain.

Jika demikian maka asas-asas dan kaedah-kaedah untuk mengikuti salaf harus nampak jelas dan tegar. Sehingga tidak merancukan orang-orang yang ingin mengikuti salafus shaleh.

Karena itulah harus ada pembeda antara Ahlus Sunnah dengan para pengaku Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Yaitu dengan sebuah nisbat yang mereka tidak berani menggunakannya. Karena penisbatan itu akan membongkar penyimpangan dan cacat jika dicek/dibandingkan dengan jalan orang-orang yang beriman (yaitu sahabat) dan metode salafus shalih. Pembeda itu adalah Salafiyah. Jalan salaf shalih itulah jalan yang jelas tanpa perlu diragukan. Yakni jalan para sahabat dan tabi’in. Inilah jalan petunjuk dan jalan untuk mendapatkan petunjuk.

“Artinya : Maka janganlah orang-orang yang tidak mau beriman dan mengikuti hawanya menghalangimu darinya sehingga engkau akan binasa’ [Thaha :16]

[Disalin dari terjemahan Mukadimah Kitab Ru’yah Waqi’iyah karya Syaikh Ali bin Hasan al Halabi oleh Ibnu Ahmad al Lambunji dari majalah As Sunnah Edisi 02/Tahun VI/1423H/2002M]


Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Viewfinder Design